Ibu S Kembali Memasak, Bersiap Jualan Lagi Usai Pasang LVAD

Kesehatan1 Views

Ibu S Kembali Memasak, Bersiap Jualan Lagi Usai Pasang LVAD Perubahan besar dirasakan Ibu S setelah menjalani pemasangan Left Ventricular Assist Device atau LVAD di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Perempuan berusia 45 tahun yang sebelumnya berulang kali mengalami sesak akibat gagal jantung stadium lanjut itu kini sudah mampu berjalan lebih jauh, kembali memasak, dan mulai belajar melakukan pekerjaan rumah yang sebelumnya sulit dikerjakan.

Kondisi terbaru Ibu S disampaikan pada 5 September 2026 dalam Online Global Heart Longevity 5.0 Summit. Kepada Direktur Utama RSCM Supriyanto Dharmoredjo, Ibu S mengatakan dirinya sudah dapat berjalan jauh tanpa merasakan sesak, terengah, maupun cepat lelah seperti sebelum operasi. Ia juga telah kembali memasak dan belajar mencuci pakaian.

Satu kegiatan yang sangat ingin dilakukannya kembali adalah berjualan nasi uduk. Sebelum kondisi jantungnya memburuk, pekerjaan tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan Ibu S sebagai ibu dua anak. Sampai awal September, ia belum sepenuhnya kembali membuka usaha, tetapi sudah merencanakan untuk berjualan lagi dalam waktu dekat.

Dari Penjual Nasi Uduk Menjadi Pasien Gagal Jantung Berat

Sebelum menerima LVAD, kemampuan Ibu S menjalankan kegiatan sehari hari telah menurun tajam. Aktivitas fisik ringan saja dapat memunculkan sesak napas dan kelelahan.

Pengumuman awal dari RSCM dan HeartSpan.ai menyebut fraksi ejeksi ventrikel kiri Ibu S berada di sekitar 14 persen. Angka tersebut menunjukkan kemampuan bilik kiri dalam memompa darah sudah sangat rendah. Ia juga berulang kali menjalani perawatan di rumah sakit akibat gagal jantung.

Fraksi ejeksi merupakan salah satu ukuran yang digunakan dokter untuk melihat persentase darah yang dikeluarkan bilik kiri setiap kali jantung berkontraksi. Namun, dokter tidak menentukan kondisi gagal jantung hanya berdasarkan satu angka. Gejala, kemampuan melakukan aktivitas, fungsi organ lain, frekuensi rawat inap, serta respons terhadap obat juga ikut dinilai.

Dalam kehidupan Ibu S, penurunan kemampuan jantung mempunyai konsekuensi yang sangat nyata. Pekerjaan menjual nasi uduk membutuhkan tenaga untuk menyiapkan bahan, memasak, mengangkat perlengkapan, melayani pembeli, dan melakukan berbagai pekerjaan sejak pagi.

Ketika berjalan sedikit saja sudah menimbulkan sesak, kegiatan tersebut menjadi semakin sulit dilakukan.

LVAD Dipasang pada 1 Agustus 2026

Tim RSCM kemudian melakukan implantasi LVAD pada 1 Agustus 2026. Tindakan tersebut disebut sebagai pemasangan pertama perangkat LVAD berukuran sangat kecil dan ringan tersebut di Asia Tenggara.

Prosedur dilakukan setelah tim multidisiplin RSCM menjalani persiapan bersama HeartSpan.ai serta pelatihan di Fuwai Hospital, Beijing. Spesialis dari Fuwai Hospital juga memberikan dukungan ketika implantasi pertama dilakukan di Jakarta.

Pemasangan LVAD bukan tindakan yang dapat diberikan kepada seluruh pasien gagal jantung secara otomatis.

Tim medis perlu melakukan penilaian menyeluruh karena operasi dan penggunaan perangkat tersebut membawa sejumlah risiko. Kondisi bilik kanan, ginjal, hati, pembuluh darah, status infeksi, kemampuan menjalani terapi pengencer darah, hingga dukungan keluarga dapat menjadi bagian dari pertimbangan.

Mayo Clinic menjelaskan tidak ada satu angka fraksi ejeksi yang secara otomatis menentukan seseorang membutuhkan LVAD. Dokter mempertimbangkan tingkat berat gagal jantung, gejala, fungsi organ, frekuensi masuk rumah sakit, dan kemampuan pasien menjalani aktivitas.

Cara LVAD Membantu Jantung Ibu S

LVAD bukan jantung buatan yang menggantikan seluruh organ jantung.

Perangkat tersebut membantu bilik kiri yang sudah terlalu lemah untuk memompa darah dalam jumlah yang dibutuhkan tubuh.

Kementerian Kesehatan menjelaskan darah mengalir melalui saluran dari ventrikel kiri menuju pompa. Dari perangkat tersebut, darah kemudian dialirkan menuju aorta, pembuluh darah besar yang membawa darah ke seluruh tubuh.

Dengan bantuan pompa mekanis, beban bilik kiri berkurang dan aliran darah menuju berbagai organ dapat diperbaiki.

Pada kasus Ibu S, dokter RSCM menjelaskan sebagian besar pekerjaan memompa darah kemudian dibantu oleh perangkat tersebut.

Hal tersebut menjadi salah satu alasan kemampuan melakukan kegiatan dapat meningkat setelah kondisi pasien stabil dan rehabilitasi berjalan.

“Menurut penulis, ukuran keberhasilan teknologi seperti LVAD terasa paling jelas bukan ketika melihat bentuk alatnya, tetapi ketika pasien kembali sanggup melakukan kegiatan sederhana yang sebelumnya terlalu berat.”

Sehari Setelah Operasi Sudah Lepas dari Ventilator

Perkembangan awal Ibu S setelah operasi tergolong menggembirakan.

HeartSpan.ai dalam keterangan pada 5 Agustus menyebut pasien berhasil dilepaskan dari ventilator dan menjalani ekstubasi pada hari pertama setelah operasi. Kondisinya kemudian stabil dan rehabilitasi mulai dijalankan.

Tahap tersebut penting karena operasi pemasangan LVAD merupakan tindakan besar.

Tim medis harus memantau perdarahan, fungsi bilik kanan, tekanan darah, infeksi, irama jantung, kerja perangkat, fungsi ginjal, serta berbagai parameter lainnya setelah pembedahan.

Pergerakan pasien juga dilakukan secara bertahap.

Awalnya pasien berlatih duduk. Setelah kondisi memungkinkan, aktivitas ditingkatkan sesuai penilaian dokter dan tenaga rehabilitasi.

Mayo Clinic menjelaskan pasien penerima VAD umumnya dibantu untuk mulai duduk, bangun dari tempat tidur, dan berjalan selama masa pemulihan. Sebagian pasien juga menjalani rehabilitasi jantung untuk membantu meningkatkan kekuatan dan kemampuan fisik.

Sebulan Kemudian Sudah Bisa Berjalan Jauh

Perubahan yang lebih jelas terlihat sekitar satu bulan setelah operasi.

Dalam forum kesehatan pada 5 September, Ibu S mengatakan dirinya sudah mampu berjalan jauh tanpa sesak maupun merasa cepat lelah seperti sebelumnya.

Ia bahkan sudah dapat berjalan mengelilingi rumah.

Perubahan ini mempunyai arti besar bagi pasien yang sebelumnya harus menghadapi sesak hanya karena aktivitas ringan.

Peningkatan kemampuan fisik setelah LVAD memang menjadi salah satu tujuan terapi. Mayo Clinic menyatakan LVAD yang digunakan dalam jangka panjang dapat membantu meningkatkan kemampuan fisik dan kualitas hidup sebagian pasien gagal jantung berat. Hasil setiap pasien tetap dapat berbeda bergantung pada kondisi sebelum operasi serta komplikasi yang mungkin terjadi setelahnya.

Ibu S sendiri masih meningkatkan aktivitas secara bertahap. Ia mengatakan belum kembali mengikuti pengajian di luar rumah, meskipun sudah dapat berjalan di sekitar rumah dengan lebih nyaman.

Memasak Menjadi Tanda Kemandirian Mulai Kembali

Kemampuan kembali memasak menjadi salah satu perkembangan yang paling dekat dengan kehidupan Ibu S.

Bagi orang sehat, berdiri di dapur, mengambil bahan, mengaduk makanan, dan berpindah dari satu bagian dapur ke bagian lain mungkin terasa biasa.

Bagi pasien gagal jantung stadium lanjut, rangkaian aktivitas tersebut dapat terasa sangat berat.

Sesak dan kelelahan dapat memaksa pasien sering berhenti, duduk, atau bahkan meninggalkan pekerjaan sebelum selesai.

Setelah menjalani pemasangan LVAD, Ibu S mengatakan sudah dapat memasak kembali. Ia juga mulai belajar mencuci pakaian.

Kembalinya kegiatan rumah tangga memperlihatkan pemulihan tidak hanya diukur melalui hasil pemeriksaan di rumah sakit.

Kemampuan melakukan aktivitas dasar secara mandiri menjadi bagian penting dari kualitas hidup pasien.

Jualan Nasi Uduk Menjadi Target Berikutnya

Pekerjaan sebagai penjual nasi uduk mempunyai arti khusus bagi Ibu S karena penghasilannya ikut digunakan untuk menopang keluarga.

Ia merupakan ibu dari dua anak dan selama ini menjalankan usaha makanan sebagai salah satu sumber penghasilan.

Kondisi gagal jantung membuat pekerjaan tersebut tidak dapat dilakukan seperti sebelumnya.

Kini Ibu S mengatakan dirinya ingin kembali berjualan dalam waktu dekat.

Namun, kembalinya seseorang ke pekerjaan setelah operasi LVAD harus mengikuti penilaian tim medis.

Mayo Clinic menjelaskan tenaga kesehatan akan memberi petunjuk kapan pasien dapat kembali bekerja, mengemudi, berolahraga, dan melakukan kegiatan lainnya. Waktunya tidak sama bagi setiap pasien karena bergantung pada proses penyembuhan dan jenis pekerjaan yang dilakukan.

Berjualan makanan dapat melibatkan berdiri dalam waktu cukup lama, mengangkat barang, berada dekat sumber panas, serta bekerja sejak dini hari.

Karena itu, aktivitas Ibu S perlu meningkat secara bertahap sesuai arahan dokter.

Hidup dengan LVAD Tetap Membutuhkan Penyesuaian

Membaiknya kemampuan beraktivitas tidak berarti pasien dapat melupakan perangkat yang berada di tubuhnya.

Pompa LVAD berada di dalam tubuh, tetapi sebagian komponennya tetap terhubung dengan perangkat di luar.

Mayo Clinic menjelaskan sebuah kabel keluar melalui kulit untuk menghubungkan pompa dengan unit kontrol dan sumber daya. Pasien harus memastikan baterai tetap terisi dan membawa baterai cadangan.

Area tempat kabel keluar dari kulit juga harus dirawat dengan ketat.

Kebersihan diperlukan untuk mengurangi risiko infeksi.

Pasien dan keluarga biasanya memperoleh pelatihan mengenai cara mengganti balutan, mengenali tanda infeksi, menangani alarm perangkat, memeriksa baterai, serta mengambil tindakan ketika terjadi masalah teknis.

Dengan kata lain, kebebasan bergerak setelah LVAD datang bersama tanggung jawab baru.

Aktivitas di Dapur Memerlukan Perhatian Khusus

Rencana Ibu S kembali memasak dan berjualan nasi uduk juga membutuhkan penyesuaian terhadap lingkungan dapur.

Komponen eksternal LVAD tidak boleh sembarangan terkena air. Pasien perlu mengikuti aturan dari tim LVAD mengenai mandi, membersihkan tubuh, serta melindungi controller dan sumber daya.

Mayo Clinic menyebut pasien menerima instruksi khusus mengenai cara mandi tanpa merusak perangkat. Pasien juga harus menjaga kabel agar tidak tertarik atau mengalami kerusakan.

Lingkungan dapur mempunyai air, uap, minyak panas, serta berbagai benda yang dapat tersangkut.

Karena itu, cara membawa baterai dan controller harus diatur sesuai petunjuk tim medis.

Aktivitas memasak yang dilakukan Ibu S setelah pulang menunjukkan dirinya mulai mampu beradaptasi, tetapi kegiatan tersebut tetap harus mengikuti batas yang ditentukan tim perawatan.

Baterai Menjadi Bagian dari Kehidupan Sehari Hari

Salah satu perubahan terbesar setelah menggunakan LVAD adalah ketergantungan terhadap sumber daya.

Pompa membutuhkan listrik agar terus bekerja.

Ketika berada di luar rumah, pasien menggunakan baterai. Karena perangkat menopang sirkulasi darah, pengelolaan daya bukan sekadar persoalan kenyamanan.

Pasien harus mengetahui kapasitas baterai, membawa cadangan, mengenali alarm, serta mengetahui tindakan apabila sistem mengalami gangguan.

Mayo Clinic menekankan pentingnya selalu menyediakan baterai tambahan dan memahami cara memeriksa kondisi controller serta sumber daya.

Bagi Ibu S, kebiasaan baru tersebut nantinya ikut menjadi bagian dari rutinitas ketika kembali berjualan.

Persiapan berdagang bukan lagi hanya menyiapkan beras, santan, lauk, dan perlengkapan dagang. Perangkat LVAD dan sumber dayanya juga harus diperiksa sebelum aktivitas dimulai.

Risiko Tetap Ada Meski Kondisi Terlihat Jauh Lebih Baik

LVAD merupakan terapi berteknologi tinggi, tetapi bukan tanpa risiko.

Beberapa komplikasi yang perlu dipantau antara lain perdarahan, pembentukan bekuan darah, stroke, infeksi pada lokasi keluarnya kabel, gangguan perangkat, gangguan irama jantung, serta kelemahan bilik kanan setelah pemasangan LVAD.

Karena itu, pasien harus tetap menjalani kontrol.

Sebagian penerima LVAD juga membutuhkan obat pengencer darah untuk mengurangi risiko pembentukan bekuan di dalam perangkat.

Pemeriksaan rutin dapat mencakup evaluasi gejala, tekanan darah, kondisi perangkat, pemeriksaan darah, ekokardiografi, serta pemeriksaan lain sesuai kebutuhan.

Membaiknya stamina tidak boleh membuat pasien menghentikan obat atau melewatkan pemeriksaan.

“Kemampuan kembali memasak atau bekerja bukan tanda bahwa pengawasan medis sudah selesai. Justru tahap tersebut menunjukkan terapi mulai memberi ruang bagi pasien untuk menjalani kehidupan dengan aturan baru.”

LVAD Bisa Digunakan untuk Tujuan Berbeda

Penggunaan LVAD tidak selalu mempunyai tujuan yang sama pada setiap pasien.

Pada sebagian pasien, perangkat digunakan sebagai jembatan sambil menunggu transplantasi jantung.

Pada pasien lain yang tidak menjadi kandidat transplantasi, LVAD dapat digunakan sebagai dukungan jangka panjang.

Ada pula keadaan tertentu ketika perangkat digunakan sambil melihat kemungkinan pemulihan fungsi jantung.

Kementerian Kesehatan menjelaskan perkembangan LVAD sejak dekade 1980 kemudian semakin luas setelah penelitian menunjukkan perangkat tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup dan memperpanjang harapan hidup pada pasien gagal jantung tertentu.

Penentuan tujuan terapi harus dibuat secara individual.

Pasien tidak dapat memilih pemasangan LVAD hanya karena memiliki diagnosis gagal jantung. Tim dokter harus menilai apakah manfaat yang mungkin diperoleh lebih besar daripada risiko tindakan.

RSCM Membangun Tim Khusus untuk Pasien LVAD

Pemasangan perangkat merupakan satu bagian dari perjalanan panjang.

RSCM menekankan kebutuhan tim multidisiplin untuk mendampingi pasien sejak tahap seleksi sampai perawatan setelah operasi.

HeartSpan.ai menyebut keberhasilan terapi membutuhkan koordinasi dokter jantung, dokter bedah, tenaga perawatan intensif, perawat, tenaga rehabilitasi, serta koordinator LVAD.

RSCM sebelumnya juga menyatakan pengembangan layanan mencakup pendampingan setelah operasi melalui LVAD Coordinator.

Peran koordinator menjadi penting karena masalah dapat muncul ketika pasien sudah berada di rumah.

Alarm perangkat, kondisi baterai, perubahan pada lokasi kabel, keluhan baru, maupun pertanyaan mengenai aktivitas tidak selalu dapat menunggu sampai jadwal kontrol berikutnya.

Sistem pendampingan membantu pasien dan keluarga mengetahui siapa yang harus dihubungi.

Menkes Ingin Kemampuan LVAD Tidak Berhenti di Satu Rumah Sakit

Keberhasilan RSCM kemudian menjadi perhatian pemerintah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pada 5 September menyatakan teknologi LVAD membuka pilihan tambahan bagi pasien gagal jantung berat yang membutuhkan terapi lanjutan. Ia juga mendorong kemampuan tersebut dikembangkan menjadi jejaring yang lebih luas sehingga pengetahuan tidak hanya terkonsentrasi pada satu pusat layanan.

Pengembangan layanan memerlukan lebih dari sekadar membeli perangkat.

Rumah sakit membutuhkan dokter dan tenaga pendukung dengan pelatihan khusus, fasilitas bedah jantung, layanan intensif, rehabilitasi, sistem pemantauan, serta kemampuan menangani komplikasi.

RSCM sendiri menyiapkan program tersebut melalui pelatihan tim di Fuwai Hospital dan pendampingan ketika prosedur pertama dilakukan.

Pengalaman Ibu S kemudian menjadi kasus penting karena memperlihatkan perjalanan pasien dari kondisi gagal jantung berat, operasi besar, rehabilitasi, sampai kembali melakukan kegiatan di rumah.

Aktivitas Ibu S Masih Ditingkatkan Secara Bertahap

Sampai 5 September 2026, Ibu S belum kembali menjalani seluruh kegiatan yang dahulu dilakukannya.

Ia sudah mampu berjalan lebih jauh, memasak, dan mulai mencuci pakaian, tetapi belum kembali mengikuti pengajian di luar rumah. Rencana membuka kembali usaha nasi uduk juga masih dalam tahap persiapan.

Perbedaan ini penting karena pemulihan setelah LVAD tidak berlangsung sekaligus.

Tubuh harus pulih dari operasi, otot perlu memperoleh kembali kekuatan, luka harus dirawat, dan pasien harus belajar hidup bersama perangkat.

Program rehabilitasi dapat membantu meningkatkan kekuatan serta ketahanan tubuh secara bertahap. Mayo Clinic menyebut latihan yang diawasi menjadi bagian penting dalam pemulihan pasien pengguna perangkat bantuan ventrikel dan dapat membantu meningkatkan kemampuan beraktivitas.

Bagi Ibu S, langkah berikutnya bukan mengejar seberapa cepat ia dapat kembali bekerja penuh, melainkan meningkatkan kegiatan sesuai kemampuan tubuh dan penilaian dokter. Memasak yang sudah dapat dilakukan, berjalan tanpa sesak, serta rencana kembali menjual nasi uduk menjadi bagian dari proses tersebut, sementara pemeriksaan, perawatan perangkat, obat, dan pendampingan medis tetap berjalan bersamaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *