Ketahui, Perbedaan Gaslighting dengan Playing Victim Belakangan ini, istilah gaslighting dan playing victim semakin sering muncul dalam obrolan sehari hari, terutama di media sosial. Dua istilah ini kerap dipakai saat membahas hubungan yang tidak sehat, baik dalam konteks percintaan, keluarga, pertemanan, bahkan lingkungan kerja. Masalahnya, tidak sedikit orang yang mencampuradukkan keduanya, seolah gaslighting dan playing victim adalah hal yang sama.
Padahal, meski sama sama beririsan dengan manipulasi emosional, gaslighting dan playing victim punya pola, tujuan, dan dampak yang berbeda. Memahami perbedaannya penting, bukan hanya agar kita bisa mengenali jika sedang mengalaminya, tapi juga supaya kita tidak asal menuduh orang lain tanpa memahami konteksnya.
“Kadang yang bikin luka bukan kata kata kasar, tapi cara seseorang memutarbalikkan realitas.”
Mengapa Istilah Gaslighting dan Playing Victim Semakin Populer
Popularitas dua istilah ini tidak lepas dari meningkatnya kesadaran soal kesehatan mental. Banyak orang mulai berani membicarakan pengalaman emosional yang dulu dianggap sepele atau bahkan dinormalisasi.
Di media sosial, cerita soal pasangan manipulatif, atasan toksik, atau teman yang selalu merasa paling tersakiti sering mendapat respons besar. Dari sinilah istilah gaslighting dan playing victim sering muncul, meski tidak selalu digunakan secara tepat.
Ada kecenderungan untuk melabeli perilaku tidak menyenangkan sebagai gaslighting atau playing victim tanpa benar benar memahami definisinya.
Memahami Gaslighting dari Akar Maknanya
Gaslighting adalah bentuk manipulasi psikologis di mana seseorang membuat orang lain meragukan persepsi, ingatan, atau kewarasannya sendiri. Pelaku gaslighting biasanya tidak langsung menyerang, tapi perlahan mengikis rasa percaya diri korban terhadap realitas yang ia alami.
Gaslighting bisa terjadi dalam kalimat sederhana seperti menyangkal kejadian yang jelas terjadi, memutarbalikkan fakta, atau membuat korban merasa berlebihan dan sensitif.
Contohnya, ketika seseorang berkata, kamu terlalu lebay, itu tidak pernah terjadi, atau kamu salah ingat terus. Jika dilakukan berulang, korban bisa mulai mempertanyakan dirinya sendiri.
“Yang paling menakutkan dari gaslighting adalah saat kita mulai tidak percaya pada diri sendiri.”
Pola Umum Gaslighting dalam Hubungan Sehari hari
Gaslighting jarang muncul dalam bentuk dramatis. Justru sering hadir dalam interaksi kecil yang konsisten. Pelaku biasanya terlihat tenang, rasional, bahkan meyakinkan, sehingga korban merasa dirinyalah yang bermasalah.
Beberapa pola yang sering muncul antara lain menyangkal ucapan sendiri, meminimalkan perasaan korban, atau mengalihkan pembicaraan ketika dihadapkan pada kesalahan.
Dalam jangka panjang, gaslighting bisa membuat korban kehilangan kepercayaan diri, merasa bingung, cemas, bahkan bergantung secara emosional pada pelaku.
Apa Itu Playing Victim dan Bagaimana Polanya
Berbeda dengan gaslighting, playing victim adalah perilaku di mana seseorang terus menerus memposisikan dirinya sebagai korban, meski dalam situasi tertentu ia sebenarnya memiliki peran atau tanggung jawab.
Orang yang playing victim cenderung menghindari tanggung jawab dengan cara menonjolkan penderitaan dirinya. Fokusnya bukan pada fakta atau solusi, melainkan pada simpati dan pembenaran.
Playing victim sering ditandai dengan kalimat seperti semua ini salah kamu, aku selalu disakiti, atau kenapa aku selalu jadi korban.
“Ada orang yang tidak ingin menyelesaikan masalah, tapi ingin dimenangkan.”
Tujuan Tersembunyi di Balik Playing Victim
Tidak semua orang yang merasa tersakiti sedang playing victim. Perbedaannya terletak pada konsistensi dan niat. Playing victim biasanya digunakan untuk mendapatkan simpati, mengontrol narasi, atau menghindari kritik.
Dalam banyak kasus, pelaku playing victim ingin terlihat paling menderita agar orang lain merasa bersalah atau mundur dari konflik. Dengan begitu, ia tidak perlu mengakui kesalahan atau berubah.
Berbeda dengan gaslighting yang merusak persepsi korban, playing victim lebih fokus pada citra diri pelaku di mata orang lain.
Perbedaan Utama Gaslighting dan Playing Victim
Perbedaan paling mendasar terletak pada arah manipulasinya. Gaslighting menyerang realitas korban, membuatnya meragukan apa yang ia lihat dan rasakan. Playing victim menyerang persepsi orang lain, membuat pelaku terlihat sebagai pihak yang paling dirugikan.
Gaslighting sering terjadi secara privat dan halus, sementara playing victim kerap dilakukan secara terbuka, bahkan di hadapan banyak orang.
Jika gaslighting membuat korban bertanya apakah aku salah atau gila, playing victim membuat orang lain bertanya kasihan ya dia.
Dampak Psikologis yang Ditimbulkan
Gaslighting bisa berdampak sangat dalam. Korban sering mengalami kebingungan, kecemasan, rendah diri, hingga kesulitan mengambil keputusan. Karena realitasnya terus dipertanyakan, korban bisa kehilangan pijakan emosional.
Playing victim juga berdampak negatif, meski dengan cara berbeda. Orang di sekitar pelaku bisa merasa lelah secara emosional, terjebak rasa bersalah, atau akhirnya menghindari konflik sama sekali.
Dalam jangka panjang, hubungan yang diwarnai dua perilaku ini cenderung tidak sehat dan penuh ketegangan.
Contoh Gaslighting dalam Kehidupan Nyata
Bayangkan seseorang mengungkapkan kekecewaan karena pasangannya ingkar janji. Alih alih meminta maaf, pasangannya berkata, kamu pasti salah dengar, aku tidak pernah janji seperti itu.
Jika hal ini terjadi berulang, korban akan mulai ragu pada ingatannya sendiri. Ia mungkin berpikir, apa aku memang terlalu sensitif atau pelupa.
Ini adalah contoh klasik gaslighting, di mana fakta diputarbalikkan untuk mempertahankan posisi pelaku.
Contoh Playing Victim yang Sering Tidak Disadari
Dalam konteks playing victim, bayangkan seseorang yang dikritik karena kesalahan kerja. Alih alih menerima masukan, ia berkata, aku selalu jadi sasaran, tidak ada yang menghargai usahaku.
Fokus langsung bergeser dari kesalahan ke penderitaan dirinya. Orang lain pun merasa tidak enak untuk melanjutkan kritik, meski masalahnya belum selesai.
Di sinilah playing victim bekerja, bukan dengan menyangkal fakta, tapi dengan memindahkan perhatian.
Apakah Seseorang Bisa Melakukan Keduanya Sekaligus
Dalam beberapa kasus, ya. Ada individu yang menggunakan gaslighting dan playing victim secara bergantian, tergantung situasi. Ketika berhadapan langsung dengan korban, ia melakukan gaslighting. Ketika berada di lingkungan sosial, ia memainkan peran korban.
Hal ini membuat situasi semakin rumit, karena korban tidak hanya kehilangan kepercayaan diri, tapi juga kehilangan dukungan sosial.
“Yang paling melelahkan bukan konfliknya, tapi harus menjelaskan kebenaran yang terus dipelintir.”
Mengapa Banyak Orang Sulit Menyadari Sedang Dimanipulasi
Manipulasi emosional jarang terasa seperti manipulasi di awal. Sering kali dibungkus dengan perhatian, logika, atau bahkan kepedulian palsu.
Korban gaslighting mungkin berpikir pelaku hanya lebih rasional. Korban playing victim mungkin merasa tidak enak karena melihat pelaku begitu tersakiti.
Tanpa pemahaman yang cukup, seseorang bisa terjebak lama dalam pola hubungan yang merusak.
Cara Membedakan Kritik Sehat dan Manipulasi
Tidak semua penyangkalan adalah gaslighting, dan tidak semua keluhan adalah playing victim. Kritik sehat berfokus pada perilaku dan solusi, bukan merusak identitas atau realitas seseorang.
Manipulasi biasanya berulang, konsisten, dan membuat satu pihak selalu merasa salah atau bersalah. Jika setelah berinteraksi dengan seseorang Anda selalu merasa bingung, lelah, atau meragukan diri sendiri, itu patut jadi alarm.
Apa yang Bisa Dilakukan Saat Mengalaminya
Langkah pertama adalah mengenali pola. Menulis kejadian atau perasaan bisa membantu menjaga pijakan pada realitas. Dukungan dari orang terpercaya juga sangat penting.
Batasan yang jelas perlu dibangun, meski tidak selalu mudah. Dalam beberapa kasus, jarak emosional bahkan fisik menjadi pilihan paling sehat.
“Menjaga diri sendiri bukan egois, tapi perlu.”
Pentingnya Edukasi Emosional dalam Hubungan
Memahami istilah seperti gaslighting dan playing victim bukan untuk melabeli orang lain, tapi untuk melindungi diri dan membangun hubungan yang lebih sehat.
Hubungan yang sehat memberi ruang untuk salah, bertanggung jawab, dan bertumbuh bersama, bukan saling memutarbalikkan perasaan atau berlomba menjadi korban.
Dengan memahami perbedaannya, kita bisa lebih bijak merespons konflik, sekaligus lebih jujur pada diri sendiri tentang apa yang sedang kita alami.






